Pernah ke Surabaya...? sebuah pertanyaan yang kerap terlontar disekitar kita. Tetapi pertanyaan pernah pernah membaca mjalah panjabar semangat? mungkin seribu satu orang diantara kita yang fasih menjawab pertanyaan yang "tidak lazim" tersebut.

Majalah mingguan berbahasa jawa Panjebar Semangat terbit pertama kali pada hari sabtu 2 september 1933 di Surabaya, dalam bentuk lembaran koran 4 halaman. Ketika itu, dengan tiras 2000 eksemplar hanya berhasil menggaet 37 orang pelanggan. Panjebar semangat tidak bisa dipisahkan dengan Dr. Soetomo pendiri organisasi pergerakan Boedi Oetomo. Surat kabar dengan medium bahasa jawa tersebut dipilih Soetomo sebagai alat perjuangan, dikarenakan masyarakat hingga pelosok pedesaan kala itu kebanyakan hanya mengerti bahasa jawa sebagai bahasa sehari-hari.

Panjebar Semangat memiliki motto, Sura Dira Djayaningrat Lebur Dening Pangastuti (segala kekuatan negatif yang ada di dalam masyarakat, bisa ditaklukkan dengan kebaikan). Dalam perkembangannya, majalah ini ikut terlibat pergulatan sejarah persuratkabaran di Republik ini. Saat bala tentara Jepang menguasai Indonesia tahun1942, Panjebar Semangat sempat dibredel karena dianggap membahayakan. Setelah Indonesia merdeka, Panjebar Semangat juga turut dalam suasana pasang surut hubungan pemerintah dengan pers baik era orde lama maupun orde baru. Fanatisme pelanggan adalah faktor utama yang menopang eksistensi panjebar semangat hingga sekarang. Dari oplah majalah ini, dapat diketahui berapa jumlah pelanggannya. Dari hasil penelitihan Departemen Penerangan Jawa Timur, Panjebar Semangat mencapai masa jayanya pada tahun 1960-an. Dimana tirasnya mendekati 88 ribu eksemplar. Saat itu dari segi jumlah oplah Panjebar Semangat merupakan majalah terbesar di indonesia .

Pada masa kejayaannya, pembaca Majalah berbahasa Jawa ini tersebar hingga ke luar negeri (Kaledonia Baru, Suriname, Belanda dan Perancis). Kini, penjualan Majalah Panjebar Semangat terus merosot. Bahkan, ia terpaksa memutus hubungan dengan pembaca luar negeri karena tidak sanggup menanggung biaya pengiriman.

Sebagai sebuah media, pada setiap periode majalah ini mengalami perubahan visi dan misi. Pada masa penjajahan, sesuai dengan namanya ia menyuburkan semangat kebangsaan. Kemudian pada masa revolusi fisik, Panjebar Semangat menyebarkan semangat perjuangan kemerdekaan. Setelah Indonesia merdeka, Panjebar Semangat menyuburkan semangat membangun serta melestarikan bahasa dan budaya Jawa agar jangan sampai punah pada era global. Panjebar Semangat telah memiliki pasar tersendiri yang sangat setia. Namun, karena jaman terus berubah, kesetiaan pasar pun ikut berubah. Sementara, Panjebar Semangat cenderung tidak berubah dalam menangani pasar dan persaingan industri media semakin ketat. Hingga akhirnya, tiras Panjebar Semangat mengalami penurunan dari tahun ke tahun.

Kini, untuk kelangsungan hidupnya, majalah tersebut hanya mengandalkan kesetiaan pembaca yang tersisa. Maklum, biaya operasional hanya diambilkan dari penjualan, tanpa subsidi dan tanpa iklan layaknya media lainnya. Ironisnya, keteguhan Panjebar Semangat dalam melestarikan bahasa dan budaya Jawa, kini berada di tengah-tengah rimba persaingan industrialisasi media yang sangat ketat.

Sebagai Pemimpin Redaksi, Drs Moechtar mengibaratkan kondisi ini sebagai berikut, “Kinepung wakul binaya mangap” (seperti berada di tengah kepungan buaya dengan mulut menganga). Dengan segala kendalanya, hingga kini Panjebar tetap konsisten terbit dua minggu sekali. Entah kebetulan atau tidak, Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno pun secara khusus pernah berkirim surat tulisan tangan dalam bahasa Jawa, yang berbunyi :

"Kabeh madjalah kang mbijantu marang perdjoangan nasional gedhe gunane, Ta' dongakake mogo-mugo Penjebar Semangat lestari mbijantu perdjoangan kita iki (Semua majalah yang membantu perjuangan nasional besar manfaatnya, Saya berdoa semoga Penjebar Semangat terus ada dan membantu perjuangan kita ini)".

Hingga kini, tulisan asli ini masih dibingkai dan dipajang di ruang redaksi Penjebar Semangat.




08:27 | 2 Comments






"29 mei 2006, deru mata bor mencapik perut bumi jenggala. beharap manis emas hitam, namun bubur limpur yang menyembur..."

hari ini tepat dua tahun sudah petaka itu datang, dan selama itu pula derita dan air mata tertumpah. sampai kapan harapan hampa terus bergema...?

hari ini tepat dua tahun berlalu... berbagai janji bagai ilusi datang dan pergi. hanya satu permintaan kami, penuhi segala hak kami...

hari ini tepat dua tahun belalu...tanah , sawah, rumah, tawa canda dan senyum ramah warga desa luluh lantak seketika.tenggelam dalam bubur lumpur yang pekat.

hari ini tepat dua tahun berlalu...kolam lumpur memendam semua kenangan kami, wisata bencana mendadak berjingkrak. layakkah semua ini tertimpa pada kami....





dan ketika mega jingga menggantung di horizon, berhimpunlah beberapa bhikku, bhiksu pemimpin sangha memanjatkan paritta, mantra dan sutra untuk sang budha......


jutaan umat tertegun khidmat menggelar puja bhakti dibawah pancaran purnama sidhi


selamat waisak, semoga semua mahluk berbahagia.....


07:59 | 1 Comments






"hari itu detik ke lima puluh dari pukul lima sore,mega memerah dibatas cakrawala dan surya kelana enggan beranjak ke peraduan...."

di mulut Jl. Irian Barat (baca:irba)yang bersanding dengan kalimas yang tak lagi sekemilau emas, meski seharian terpapar terangnya surya. tidak lama kemudian sebuah pickup dengan label AG1259DH merambat menepi. beberapa pria tambun dengan wajah sedikit kusut membongkar muatan yang terbungkus rapat dalam kantong plastik putih seukuran gentong air.

hari itu sabtu sore.... berselang beberapa saat bergantian kendaraan serupa hilir mudik menderu menebarkan debu berebut tempat untuk melakukan ritual serupa. waktunya telah tiba, para saudagar dari kota manca menyemut menawarkan ikan beraneka rupa. seketika jalan selebar dua bus besar berjajar itu tampak meriah. suasana mesum yang tercium berhari-hari lalu bergnti, dan "wanita jadi-jadian" yang biasanya melenggang harus berbagi tempat dengan saudagar-saudagar yang mengadu peruntungan di hari itu.

malam beranjak larut... seperti biasa meski tanpa warta sebagian warga kota memanjakan mata yang sepanjang pekan berkutat dengan penat. kali ini kawasan irba menawarkan sejuta warna menyegarkan mata.

04:00..... surya merekah membelah cakrawala. sebagian warga kota buaya terlelap terhanyut kedunia sebelah. dan Irba masih terjaga, gemerincing rupiah menyembul dikantong plastik putih transparan. lunas tak berbekas cerita malam ini, dan saudagar kota seberang pun segera menjemput pagi dengan senyum meninggi.....




Pernahkah terpikir oleh anda untuk kembali selangkah kemasa silam...? untuk itu ayunkan langkah anda sejenak ke Jl. Padmosusastro (samping satadion Gelora Pantjasila)


ya... disana angan anda akan diajak bertamasya kenegri imajinasi dimasa yang telah lalu, sejenak melepaskan diri dari rutinitas metropolis yang menjejali setiap jengkal pikiran kita. Disana pula anda mungkin akan menemukan kembali kepingan memori indah yang terserak dimakan zaman. karena disanalah salah satu pintu waktu itu terbuka untuk anda. tapi jangan buru-buru mengerutkan dahi dahulu, karena disana tidak akan anda temui pintu waktu yang lazim anda temukan dalam film Doraemon.Yang ada disana hanya beberapa kios kecil yang memajang beraneka rupa barang-barang antik dari berbagai masa yang akan mengantar imaji anda menembus batas.
salah satu "pintu waktu" itu adalah Bagoes Gallery, disana duduk manis sebuah kipas angin hitam berlabel General Electric yang dirilis awal tahun 50-an. Dan diatasnya tergantung gagah sebilah pedang buatan tahun 1700-an bersebelahan dengan sepucuk pistol zaman Almarhum Jan Pieter Zoen Coen Gubernur Jendral VOC yang tersohor. Bagoes demikian bapak dua putra ini disapa, sudah hampir tiga tahun ini menjalankan bisnis barang-barang "jadoel". Kawasan ini memang kerap disambangi kolektor barang vintage ataupun orang-orang yang sekadar memuaskan diri dengan melepaskan rindu akan masa yang telah lewat.
Soal harga..? disini anda bebas mengeluarkan jurus tawar yang paling ampuh untuk mendapatkan barang kenangan dengan harga yang relative ringan. Anda bias memilih miniature becak dari kuningan seharga 20 ribuan atau topeng asmat yang dibandrol berpuluh kali lipat.
Jadi, sudah siapkah anda bertamasya menembus lorong waktu…?
Siapkan diri dan kantong anda, siapa tahu memori anda terselip di deretan barang antic di Jl.Padmosusastro….